MAMA.
Satu julukan untuk seseorang yang telah melahirkan kita. Julukan yang setiap orang bisa berbeda dalam menyebutnya. Bisa memanggil Ibu, Bunda, Mama, Umi, dan sebutan unik lainnya untuk menggambarkan pahlawan tanpa sayap ini. Ketika mulai menulis mengenai sosok yang satu ini, tak dipungkiri helaan nafas panjang ku lakukan, dan sekaan air mata pasti akan terjadi. Entah bagaimana menggambarkan sosok yang mulia ini, mungkin begitu banyak untaian kata-kata manis tidak dapat terbalaskan dengan apa yang sudah ia berikan selama hidupku ini. Wahai peri kehidupanku, bolehkah aku bersyukur, memeluk, bahkan mencium kakimu ? Betapa berharganya dirimu untukku dan untuk sodara sekandungku. Untaian doa selalu kupanjatkan untukmu, menitip pesan jika aku ingin terus melihatmu sampai aku menikah dan bahkan mempunyai seorang anak, atau bahkan cucumu sampai mempunyai anak lagi dan kau menyebutnya cicit. Seandainya manusia tahu kapan ajalnya akan menjemput, pasti persiapan panjang sudah akan kita rancang. Mama, bisakah aku membalas semua yang sudah kau perbuat kepadaku ? Membesarkanku tanpa pamrih, tanpa mengenal lelah dan seberapa banyak materi yang sudah kau perjuangkan demi melihat anakmu tumbuh dengan sempurna. Beribu cara aku pikirkan bagaimana harus membalas budi tentang semua kebaikanmu, mungkin usiaku tak akan cukup untuk membalas kebaikanmu slama ini, Mama. Anakkmu sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang matang dalam berpikir, anakmu sudah mampu berdiri memandang kerasnya kehidupan ini, anakkmu sudah mampu membiayai dirinya sendiri sekarang, tapi anakkmu belum mampu membuatmu merasa bangga. Ku akui masih panjang perjalanan untuk membuatmu bangga kepadaku, Mah. Tapi percayalah, anak gadismu ini berjanji untuk terus membuatmu merasa bahagia telah melahirkanku ke dunia ini... Berjanjilah kepadaku, bahwa kau akan terus melihatku berdiri tegak untuk menopangmu di usia senja atau bahkan sampai kita tak ada lagi di dunia ini..